ads code

Petani Sawit Menjerit Karena Harga Jual Tidak Stabil

ads code

SuaroMinang – “Agam-Pasaman” Nilai jual sawit tidak stabil membuat ribuan petani asal Agam dan Pasaman menjerit, pasalnya mata pencarian petani saat ini mayoritas adalah Kelapa Sawit.

Irman mengatakan, pihaknya sudah tiga kali rapat bersama dinas terkait, Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Sumbar, perusahaan mitra di Dinas Perkebunan, dan Biro Perekonomian Sumbar pada awal bulan ini. Berdasarkan hasil pertemuan itu, belum ditetapkan harga TBS di dua daerah tersebut.

“Pada rapat pertama 3 Agustus, Gapki dan perusahaan mitra tidak menyetujui Surat No 500/445/Perek-Popem/2017 tanggal 1 Agustus 2017 yang diterbitkan Sekdaprov Sumbar, di mana hanya memakai harga CPO PT Kharisma Pemasaran Bersama (KPB). Padahal, itu sudah ditetapkan dan ketuk palu dari Kadis Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Sumbar,” ujar Irman.

Sementara itu, Kadis Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Sumbar, Candra, mempersilakan pihak-pihak yang melaporkannya kepada Ombudsman untuk melaporkannya karena ia merasa tidak bersalah. Ia siap dipanggil Ombudsman Sumbar untuk menjelaskan duduk perkara masalah penetapan harga TBS itu.

“Penetapan harga TBS dilakukan bersama-sama, yakni Gapki, Akasindo, Biro Perekonomian Sumbar, dan Dinas Pertanian Sumbar. Kalau kesepakatan tidak tercapai, mengapa hanya Dinas Pertanian yang disalahkan?” tanyanya.

Rapat pada Kamis (3/8), kata Candra, sekda Sumbar melalui surat, menetapkan bahwa satuan harga TBS sawit yang dipakai untuk Agam dan Pasaman Barat adalah harga AMP karena perusahaan itu telah mengekspor CPO.

Namun, Ketua Apkasindo Sumbar,Irman, terkesan memaksakan harga PT KPB, sedangkan PT KPB tidak setuju atas penetapan satuan harga itu. Maka, rapat hari itu tidak menghasilkan keputusan. Setelah itu, rapat dilanjutkan pada Sabtu (5/8), yang juga tidak menghasilkan kesepakatan.

“Karena tidak ada kesepakatan, rapat pada Sabtu itu dibuat berita acaranya. Kenapa tiba-tiba kini saya yang disalahkan Akasindo?” tanyanya. Solusi atas masalah itu, kata Candra, adalah mengadakan rapat lagi dengan pihak-pihak terkait. (h/dib)

Editor: Hendra

your google ads code

Admin Site

Media Online Minang Indonesia.

0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *